Harga minyak Brent naik US$3,43 atau 3,3% menjadi US$108,04 per barel pada Senin, 14 September 2026 pukul 16.24 WIB, menurut Reuters yang terbit pada 14 September 2026. West Texas Intermediate atau WTI pada waktu yang sama bertambah US$3,49 atau 3,5% menjadi US$103,54 per barel. Harga bergerak sepanjang sesi, sedangkan angka terbaru dapat dilihat di Sorot Angka.
Serangan 11 September menutup jalur ekspor Saudi
Serangan drone menghantam pipa East-West Arab Saudi pada Jumat, 11 September 2026. Penutupan sementara jalur itu dilaporkan pada 12 September 2026, menurut Al Jazeera. Pipa sepanjang 1.200 kilometer tersebut menghubungkan Abqaiq di bagian timur dengan terminal Yanbu di Laut Merah dan menjadi jalur alternatif ketika ekspor melalui Selat Hormuz terganggu.
Reuters pada 13 September 2026 menyebut pipa itu mengalirkan sekitar 4 juta barel per hari, setara sekitar 4% pasokan global. Al Jazeera pada 12 September 2026 menulis rentang yang lebih tinggi, yakni 4 juta sampai 5 juta barel per hari atau sekitar 4% sampai 5% pasokan global, dengan merujuk data yang dikutip Reuters. Perbedaan tersebut menunjukkan variasi volume aliran dalam beberapa bulan terakhir, bukan dua ukuran kapasitas yang identik.
Persediaan siap ekspor di Yanbu diperkirakan cukup untuk lima sampai tujuh hari sejak 13 September 2026, menurut tiga sumber industri yang dikutip Reuters pada tanggal tersebut. Jalur Laut Merah juga menghadapi risiko tambahan. Al Jazeera melaporkan pada 13 September 2026 bahwa pasukan Houthi telah menguasai pesisir Laut Merah Yaman dan Pulau Mayyun di Selat Bab al-Mandeb.
ICP dan rupiah memperjelas risikonya bagi Indonesia
Tekanan global itu bertemu dengan posisi harga energi Indonesia yang sudah tinggi. Sorot Angka, dengan data Ditjen Migas yang diperiksa pada 14 September 2026, mencatat Indonesian Crude Price atau ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel. Angka tersebut berada US$7,43 per barel di atas asumsi ICP Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 sebesar US$82 per barel, berdasarkan perhitungan Sorot Energi dari dua angka pada halaman yang sama.
Indikator USD/IDR dari Kurs Transaksi Bank Indonesia pada Sorot Angka juga berada di Rp17.536 per US$ pada 14 September 2026. Brent merupakan harga acuan pasar internasional intraday, sedangkan ICP adalah rata-rata bulanan keranjang minyak mentah Indonesia, sehingga keduanya tidak bisa disamakan langsung. Namun, jika lonjakan harga global bertahan hingga akhir September 2026, ICP bulan tersebut berisiko bergerak semakin jauh dari asumsi APBN 2026 dan kurs di atas Rp17.500 per US$ akan memperbesar nilai tagihan impor dalam rupiah.
Pemerintah belum merilis hitungan dampak ke APBN atau subsidi per 14 September 2026. Respons jangka menengah tetap bergantung pada kenaikan lifting dan kemampuan kilang menyerap minyak domestik. Konteks hulunya dapat dibaca dalam artikel Indonesia Tawarkan 13 Blok Migas dan Targetkan Pengeboran 871 Sumur pada 2026.
Arab Saudi belum mengumumkan jadwal perbaikan
Reuters pada 13 September 2026 melaporkan dua perkiraan yang berbeda. Satu sumber menyebut perbaikan dapat memerlukan lima sampai enam minggu, sedangkan sumber lain menilai pemulihan bisa lebih cepat dan sebagian aliran mungkin kembali sebelum seluruh pekerjaan selesai. Pemerintah Arab Saudi belum mengumumkan jadwal perbaikan hingga laporan Reuters tersebut diterbitkan.
Ketidakpastian durasi membuat persediaan Yanbu menjadi penyangga sementara, bukan jawaban permanen. Bagi Indonesia, tanda yang lebih penting bukan hanya pergerakan Brent dalam satu sesi, tetapi apakah gangguan pasokan berlangsung cukup lama untuk mendorong ICP September dan biaya impor lebih tinggi.
Angka dalam konteks
| Label | Nilai dan satuan | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| Brent | US$108,04 per barel, naik US$3,43 atau 3,3% | 14 September 2026, 16.24 WIB | Reuters, 14 September 2026 |
| WTI | US$103,54 per barel, naik US$3,49 atau 3,5% | 14 September 2026, 16.24 WIB | Reuters, 14 September 2026 |
| ICP | US$89,43 per barel | Rata-rata Agustus 2026 | Ditjen Migas melalui Sorot Angka, diperiksa 14 September 2026 |
| Asumsi ICP APBN | US$82 per barel | APBN 2026 | Sorot Angka, diperiksa 14 September 2026 |
| USD/IDR | Rp17.536 per US$ | 14 September 2026 | Kurs Transaksi BI melalui Sorot Angka, diperiksa 14 September 2026 |
Apa yang dipantau berikutnya
Pasar akan menilai apakah Arab Saudi dapat memulihkan sebagian aliran pipa sebelum persediaan Yanbu selama lima sampai tujuh hari menipis. Di Indonesia, pemerintah belum merilis hitungan dampak ke APBN; perkembangan ICP September 2026, kurs rupiah, dan keputusan pengadaan impor akan menentukan apakah tekanan ini berhenti di pasar atau merambat ke fiskal.
Sumber data
- Reuters, 14 September 2026, “Oil prices continue surge, rising 3% amid Saudi pipeline outage after attack”, https://www.reuters.com/business/energy/oil-prices-jump-more-than-3-after-new-strikes-saudi-strait-hormuz-2026-09-13/
- Reuters, 13 September 2026, “Saudi pipeline outage threatens loss of 4% of global oil supply”, https://www.reuters.com/business/energy/saudi-pipeline-outage-threatens-loss-4-global-oil-supply-2026-09-13/
- Al Jazeera, 12 September 2026, “Saudi Arabia shuts critical oil pipeline after drone attack: What it means”, https://www.aljazeera.com/news/2026/9/12/saudi-arabia-shuts-critical-oil-pipeline-after-drone-attack-what-happened
- Al Jazeera, 13 September 2026, “Red Sea nations watch as Houthis seize Bab al-Mandeb strait”, https://www.aljazeera.com/economy/2026/9/13/red-sea-nations-watch-as-houthis-seize-bab-al-mandeb-strait
- Sorot Energi, 14 September 2026, “Sorot Angka — Harga Energi dan Data Pasar”, https://sorotenergi.com/sorot-angka/

