Arsip peninjauan sarana tambat Terminal Manggis, 22 September 2025. Foto: PertaMC.
Pertamina menyebut antrean di sejumlah SPBU Bali mulai membaik pada 9 Oktober, setelah pasokan Pertalite sempat terlambat. Perusahaan mengirim 18 juta liter Pertalite dan 2,5 juta liter Pertamax untuk memperkuat suplai. Gangguan kembali terjadi sekitar enam minggu setelah episode antrean akhir Agustus.
Dalam laporan ANTARA yang terbit 9 Oktober 2026 pukul 16.35 WIB, Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, menyebut tanker berangkat dari Kilang Balongan, Indramayu, menuju Integrated Terminal Manggis di Karangasem.
Laporan 9 Oktober menjadwalkan kapal tiba 11 Oktober dini hari, tetapi belum memuat realisasi kedatangan dan bongkar. Jadwal tersebut bukan konfirmasi bahwa seluruh muatan sudah tersedia di SPBU pada 11 Oktober.
Setara 8–11 hari pada laju Agustus
| Produk | Muatan kapal | Dalam liter |
|---|---|---|
| Pertalite | 18.000 kiloliter | 18.000.000 liter |
| Pertamax | 2.500 kiloliter | 2.500.000 liter |
| Total dua produk | 20.500 kiloliter | 20.500.000 liter |
ANTARA pada 28 Agustus mencatat penyaluran Pertalite melalui Manggis dan Sanggaran meningkat dari 1.600 kiloliter pada 26 Agustus menjadi 2.300 kiloliter pada 27 Agustus. Dengan dua laju harian tersebut, muatan 18.000 kiloliter setara sekitar 8–11 hari penyaluran pada laju Agustus.
Itu pembanding skala pengiriman, bukan jaminan stok Bali cukup 8–11 hari pada Oktober: kebutuhan harian, stok awal dan realisasi distribusinya bisa berbeda.
Tiga angka, tiga arti
Diumumkan pada 9 Oktober.
Pasokan produk yang juga sempat kosong.
Ekuivalen penyaluran pada laju 26–27 Agustus.
Dua lokasi, kondisi antrean berbeda
Pantauan detikBali pada 7 Oktober sore menunjukkan antrean di Gatot Subroto Barat mencapai akses masuk SPBU. Di Ahmad Yani Utara, antrean memanjang hingga sebagian badan jalan. Dalam laporan yang terbit 9 Oktober malam, Pertamina menyebut antrean di sejumlah SPBU mulai berangsur kondusif; laporan itu belum memastikan semua lokasi sudah normal.
Laporan detikBali 8 Oktober juga menyebut beberapa SPBU kehabisan Pertamax, bukan hanya Pertalite. Karena itu, tambahan dua produk dalam tanker tidak bisa diperlakukan sebagai satu stok yang saling menggantikan.
Sanggaran ikut menentukan pasokan Bali selatan
Kapolsek Kuta Selatan Kompol Muhammad Said Husen, dalam laporan detikBali 8 Oktober, menyebut hasil pemantauan 7 Oktober: berdasarkan informasi pengelola SPBU, kapal BBM belum sandar di Depo Sanggaran. Pasokan Kuta Selatan dari Sanggaran dan Manggis juga disebut berkurang sekitar 30–40% per SPBU.
Keterangan tersebut berasal dari polisi berdasarkan informasi lapangan, bukan pengumuman pemotongan kuota Pertalite seluruh Bali oleh Pertamina. Dengan dua terminal terlibat, pemulihan perlu dilihat dari pasokan yang benar-benar sampai ke SPBU, termasuk di Bali selatan.
Ahad dalam keterangan 8 Oktober menyebut pasokan sebelumnya telah tiba pada 7 Oktober. Kiriman dengan jadwal 11 Oktober merupakan tambahan berikutnya. Di Manggis, layanan pandu, tunda, tambat dan kesiapan dermaga mendukung penerimaan BBM; setelah dibongkar, penyaluran masih memerlukan mobil tangki dan kesiapan SPBU.
Gangguan berulang dalam sekitar enam minggu
Pada 28 Agustus, antrean pernah ditangani dengan kedatangan dua tanker membawa 24,2 juta liter Pertalite dan 10 juta liter Pertamax ke Manggis dan Sanggaran. Pertamina kemudian melaporkan pemulihan pada 1 September. Antrean Oktober menunjukkan gangguan kembali terjadi sekitar enam minggu setelah episode akhir Agustus, sehingga keandalan jadwal sandar dan distribusi sama pentingnya dengan tambahan muatan.
Berikutnya, pantau kedatangan aktual, waktu selesai bongkar, pengiriman ke SPBU dan perubahan antrean pada entri pasokan BBM Bali di Sorot Tracker. Kendala pelayanan dapat dilaporkan melalui Pertamina Call Center 135.
Sumber dan metode
Volume dan jadwal merujuk laporan ANTARA 9 Oktober. Laporan detikBali 9 Oktober mengutip pejabat yang sama untuk muatan kapal, tetapi memiliki pantauan antrean sendiri. Keduanya bukan dua pengukuran independen atas volume pengiriman. Keterangan 30–40% diatribusikan kepada Kapolsek Kuta Selatan dalam laporan 8 Oktober.
Konversi: 1 kiloliter = 1.000 liter. Pembanding historis: 18.000 ÷ 2.300 = 7,83 hari; 18.000 ÷ 1.600 = 11,25 hari, dibulatkan sekitar 8–11 hari. Penyebut adalah realisasi penyaluran 26–27 Agustus pada ANTARA 28 Agustus, bukan kebutuhan atau stok aktual Oktober. Foto: Pertamina Maintenance & Construction (PertaMC), 22 September 2025.