MEDIA ENERGI INDONESIA
Berita

Permintaan Minyak Diprediksi Turun, Kenapa Diesel Masih Mahal?

IEA memperkirakan permintaan minyak turun pada 2026, tetapi pasokan diesel tetap ketat hingga 2027. Gangguan pasokan dan biaya pengiriman menahan penurunan harga.

Oleh Redaksi Sorot Energi··3 menit baca
Ilustrasi AI dua pekerja terminal BBM Indonesia memakai alat pelindung, memeriksa tablet di dekat tangki dan jaringan pipa. Orang dan fasilitas rekaan tanpa afiliasi perusahaan.
Ilustrasi AI dua pekerja terminal BBM Indonesia memakai alat pelindung, memeriksa tablet di dekat tangki dan jaringan pipa. Orang dan fasilitas rekaan tanpa afiliasi perusahaan.

Ilustrasi AI pekerja terminal BBM, bukan dokumentasi fasilitas atau kejadian tertentu.

Perkiraan turunnya permintaan minyak belum menjamin diesel murah. Gangguan pasokan dan biaya pengiriman masih menekan pasar. International Energy Agency (IEA) dalam laporan 14 Oktober 2026 memperkirakan pasokan diesel tetap ketat hingga 2027.

Konsumsi melemah, pasokan juga menyusut

Oil Market Report edisi Oktober 2026 memperkirakan konsumsi minyak dunia tahun ini turun 2,6 juta barel per hari dibandingkan 2025. Pasokan diproyeksikan turun lebih dalam, yakni 5,8 juta barel per hari.

Indikator Volume Perbandingan
Permintaan minyak dunia 2026 102,4 juta barel/hari Proyeksi turun 2,6 juta dari 2025.
Pasokan minyak dunia 2026 100,7 juta barel/hari Proyeksi turun 5,8 juta dari 2025.
Ekspor gasoil/diesel global September 4,7 juta barel/hari Estimasi turun hampir 700.000 dari September 2025.

Selisih proyeksi permintaan dan pasokan mencapai 1,7 juta barel per hari secara rata-rata tahunan. Angka ini membantu menjelaskan mengapa konsumsi yang melemah belum cukup melonggarkan pasar.

IEA mencatat berkurangnya pasokan dari Rusia dan Timur Tengah belum sepenuhnya tertutup oleh sumber lain. Harga diesel grosir di Singapura sempat melampaui US$200 per barel pada pertengahan September; itu harga pasar grosir saat itu, bukan harga solar di SPBU Indonesia hari ini.

Peringatan serupa dari EIA, dengan tanggal berbeda

U.S. Energy Information Administration (EIA) juga melihat pasar diesel ketat dalam Short-Term Energy Outlook yang terbit 6 Oktober. Lembaga pemerintah AS itu menjelaskan bahwa kebutuhan kilang untuk menghasilkan diesel ikut memberi tekanan naik pada harga minyak mentah.

EIA memproyeksikan harga spot Brent rata-rata US$105 per barel pada kuartal IV 2026, naik US$14 dari proyeksi bulan sebelumnya. Ini perkiraan harga rata-rata selama Oktober–Desember, bukan harga transaksi saat artikel dibaca.

Di Pantai Timur AS, persediaan bahan bakar distilat pada September berada 32% di bawah rata-rata musiman lima tahun. Kelompok distilat mencakup diesel dan minyak pemanas. EIA memperkirakan stok wilayah itu masih sekitar 20% di bawah rata-rata 2021–2025 selama musim dingin mendatang. Angka AS ini memberi contoh tekanan persediaan, bukan ukuran stok Indonesia.

Prakiraan EIA memakai masukan hingga 1 Oktober. Karena itu, proyeksinya bukan pembaruan atas laporan IEA 14 Oktober dan belum memasukkan perkembangan setelah tanggal batas tersebut.

Apa artinya untuk pasar Indonesia?

Konteks domestiknya terlihat pada rilis Ditjen Migas 13 Oktober: rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau ICP September ditetapkan US$112,81 per barel, dari US$89,43 pada Agustus. Kenaikan US$23,38 itu setara sekitar 26,1%.

Penetapannya merujuk Kepmen ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026. Angka tersebut adalah rata-rata minyak mentah September, bukan harga diesel Oktober. Rilis yang sama menyebut perkiraan ICP Oktober US$98–103 per barel; angka Oktober itu masih proyeksi.

Bagi perusahaan angkutan dan pengguna BBM industri, laporan ini memberi alasan untuk memantau penawaran pemasok, ongkos kirim dan waktu pengiriman. Harga minyak mentah, harga produk diesel dan biaya pengantaran perlu dilihat terpisah. Laporan global ini sendiri tidak mengumumkan perubahan harga BBM Indonesia.

Data berikutnya yang perlu ditunggu

IEA menjadwalkan laporan berikutnya pada 13 November 2026. Pantau perubahan perkiraan pasokan, persediaan diesel dan pemulihan kilang melalui agenda rilis IEA di Kalender Energi.

Sumber dan metode

Selisih rata-rata tahunan: 102,4 − 100,7 = 1,7 juta barel/hari. Kenaikan ICP: (112,81 − 89,43) ÷ 89,43 × 100 = 26,14%, dibulatkan menjadi 26,1%.

Bagikan artikel ini.
WhatsAppLinkedInX
PENCARIAN

Cari berita

Masukkan topik, perusahaan, kebijakan, atau proyek.

Mulai dengan minimal 2 karakter.

DAFTAR BACAANMU

Disimpan untuk nanti.

Daftar bacaan tersimpan di browser ini, bukan di akun online.