MEDIA ENERGI INDONESIA
Berita

Gas Limbah Sawit ke Toyota, Kapan Mulai Mengalir?

BioCNG Muratara ditargetkan beroperasi 2027. Gas limbah sawit akan dibeli PGN dan disalurkan ke industri di Jawa; volume, logistik dan biaya menentukan hasilnya.

Oleh Redaksi Sorot Energi···6 menit baca
Peserta seremoni pembangunan pabrik BioCNG di area Agro Muara Rupit, Musi Rawas Utara, 5 Oktober 2026, dengan nama KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia pada latar dan identitas SIPEF pada helm. Foto dokumentasi acara melalui SATUPENA.CO.ID.

Peserta seremoni pembangunan pabrik BioCNG di area PT Agro Muara Rupit, Musi Rawas Utara, 5 Oktober 2026. Nama KIS–Toyota Tsusho dan identitas SIPEF terekam pada latar serta helm peserta. Foto dokumentasi acara yang dimuat SATUPENA.CO.ID.

Gas dari limbah sawit di Musi Rawas Utara ditargetkan mulai dijual pada 2027, termasuk untuk kebutuhan industri Toyota di Jawa. Pembangunan fasilitas pemurnian gasnya baru dimulai 5 Oktober 2026. Pembelinya sudah disebut—PGN—tetapi gas komersial belum mengalir dari fasilitas baru ini. Skalanya kecil: targetnya setara sekitar 0,4 BBTUD, atau 0,05% dari target penyaluran PGN pada 2026.

detikFinance pada 6 Oktober, pukul 11.07 WIB, melaporkan PGN akan membeli biomethane sekaligus menyalurkannya melalui jaringan gas. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan industri lain menjadi calon pengguna. Toyota Tsusho pada 5 Oktober menegaskan target operasi komersial 2027 dan penjualan sekitar 150.000 MMBTU per tahun.

Tiga angka untuk membaca skala proyek

Target penjualan energi150.000

MMBTU setahun: satuan kandungan energi gas, bukan jumlah ton limbah.

Dibanding target PGN 2026±0,05%

Target proyek sekitar 0,4 BBTUD dibanding target penyaluran PGN 877 BBTUD, bukan realisasi.

Target mulai komersial2027

Tahun sasaran, belum tanggal pasti atau bukti operasi.

Skalanya kecil, jalur penjualannya yang menarik

Target tahunan itu rata-rata sekitar 0,411 BBTUD, setara energi kurang lebih delapan ton LNG sehari. Dibanding target penyaluran PGN sebesar 877 BBTUD pada 2026, porsinya hanya sekitar 0,047%, dibulatkan 0,05%. Ini tambahan kecil pada jaringan PGN dan pengganti sebagian bahan bakar industri. Seluruh volume pun belum tentu masuk Toyota karena ada pelanggan lain; kebutuhan gas pabrik TMMIN dan porsi penggantiannya belum diungkap.

Daya tarik investasinya terletak pada rantai yang relatif jelas: limbah tersedia di pabrik sawit, fasilitas baru memurnikan gas, PGN membelinya, lalu pelanggan memakai jaringan dan peralatan gas yang sudah ada. Memakai infrastruktur tersebut dapat mengurangi kebutuhan membangun jalur distribusi baru, tetapi biaya pemurnian, pengangkutan dan harga jual tetap menentukan keuntungan proyek.

Siapa membangun, siapa memasok, siapa membeli?

Peran dalam proyek biomethane Muratara
Pihak Peran
PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI) Pengembang bisnis produksi dan penjualan gas; perusahaan patungan yang dibentuk September 2026.
PT KIS Biofuels Indonesia / PT Toyota Tsusho Indonesia Pemegang saham KTBI: masing-masing 51% dan 49%. Ini saham perusahaan patungan, bukan porsi PGN.
PT Agro Muara Rupit, grup SIPEF Pabrik sawit tempat limbah cair berasal dan fasilitas dikembangkan.
PGN Pembeli utama dan penyalur melalui jaringan gas.
TMMIN dan industri lain Pengguna gas yang direncanakan.

Lokasinya berada di area pabrik kelapa sawit Agro Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Limbah cair sawit, atau POME, menghasilkan biogas saat terurai. Biogas itu perlu dimurnikan menjadi gas berkadar metana tinggi sebelum dipasarkan sebagai biomethane; BioCNG adalah bentuk gas tersebut yang dikompresi.

Menurut laporan acara, gas dibawa dari Muratara ke titik injeksi PGN di Pagardewa, Kabupaten Muara Enim. Ada perjalanan antarkabupaten sebelum gas masuk pipa. BioCNG bisa diangkut dengan truk berisi tabung gas bertekanan; moda, rute dan jumlah armada proyek ini belum dirinci dalam pengumuman. Biaya perjalanan, kompresi dan bongkar muat ikut menentukan harga gas yang sampai ke jaringan.

Presentasi PGN per September 2024, halaman 20, menggambarkan jalur injeksi biomethane Pagardewa ke pipa Sumatra Selatan–Jawa Barat (SSWJ), lalu pipa distribusi pelanggan. Saat masuk jaringan bersama, biomethane bercampur dengan gas lain. “Gas untuk Toyota” berarti pasokan dan pengambilannya dicatat dalam jumlah energi yang sesuai; bukan pipa khusus dari kolam sawit ke pabrik Toyota atau jaminan molekul yang sama tiba di Karawang. Tata cara sertifikasi dan pencatatan pasokan proyek ini masih perlu dituntaskan.

Bukan mulai dari pabrik sawit kosong

SIPEF mencatat pabrik sawit Agro Muara Rupit mulai beroperasi Juni 2024, dengan kapasitas awal pengolahan 45 ton tandan buah segar per jam. Angka ini kapasitas pabrik sawit, bukan volume limbah yang seluruhnya menjadi gas. Kebutuhan POME harian untuk memenuhi target biomethane belum dirinci dalam rilis proyek.

Laporan acara menyebut fasilitas biogas penangkap metana di lokasi sudah mulai beroperasi Agustus 2026. Fasilitas BioCNG yang baru dibangun merupakan tahap berikutnya agar gas bisa dimurnikan dan dijual. Skemanya bangun, miliki, operasikan, lalu alihkan (BOOT); masa pengalihan, nilai investasi dan harga jual belum dicantumkan dalam sumber pengumuman yang tersedia.

Kerja sama ini juga punya riwayat lebih panjang dari seremoni Oktober. Toyota Tsusho merujuk nota kesepahaman dengan PGN pada pertemuan AZEC 2023; daftar resmi METI, nomor 25, mencatat pengembangan bersama gas terbarukan oleh kedua pihak. Pembangunan sekarang membawa rencana itu ke tahap fasilitas, belum berarti kontrak penjualan telah menghasilkan pendapatan.

Pengurangan emisi harus punya batas hitungan

Laporan seremoni menyebut potensi pengurangan sekitar 80.000 ton setara CO₂ per tahun. Angka sebesar itu tidak mungkin dijelaskan hanya oleh Toyota mengganti gas fosil. Dengan faktor pembakaran gas alam EIA 52,91 kilogram CO₂ per MMBTU, pembakaran 150.000 MMBTU menghasilkan sekitar 7.900 ton CO₂—hanya sepersepuluh klaim tersebut.

Secara aritmetika, sekitar 90% klaim berada di luar penggantian emisi pembakaran gas fosil, terutama manfaat penangkapan metana limbah dalam skenario kolam melepas metana. Itu pembacaan skala, bukan rincian emisi proyek yang telah diaudit. Ada batas penting: laporan acara mengutip SIPEF bahwa metana sebelumnya sudah ditangkap dan dibakar. Jika pembandingnya kondisi itu, manfaat penangkapan tidak boleh diklaim lagi sebagai tambahan BioCNG. Angka 80.000 ton perlu menyebut kondisi awal, periode hitung, kebocoran metana dan energi pengangkutan; ia belum merupakan pengurangan emisi terukur.

Pertama bagi KTBI, bukan pertama di Indonesia

Laporan acara menyebut Muratara sebagai proyek komersial pertama KTBI. Perusahaan patungan baru ini berbeda dari pengalaman KIS sebelumnya: KIS pada Juli 2025 menyatakan dua proyek BioCNG telah beroperasi dengan Unilever; SIPEF mencatat BioCNG Perlabian beroperasi Desember 2025.

SMART pada Februari 2026 mengumumkan pabrik keempat KIS di Indonesia, di Padang Halaban, Sumatra Utara, dengan target 127.000 MMBTU per tahun. Proyek lain KIS–AEP di Tapung Hilir, Kampar, direncanakan memasok PGN Gagas mulai kuartal I 2027. Jadi Muratara bukan BioCNG pertama Indonesia. Toyota Tsusho menyebut kebaruan jalur Sumatra ke pelanggan Jawa; klaim itu berbeda dari “pabrik pertama”.

Yang menentukan apakah model ini bisa diperbanyak

Pantau penyelesaian fasilitas, volume gas yang benar-benar terjual, mutu gas saat injeksi, biaya logistik dan kontrak pelanggan. Toyota Tsusho menyebut sertifikasi keberlanjutan ISCC masih diupayakan. Produksi stabil dan biaya per MMBTU akan lebih menentukan peluang replikasi daripada seremoni pembangunan.

Ikuti tahap pembangunan dan target operasi pada profil BioCNG Muratara di Sorot Tracker.

Sumber dan metode hitungan

150.000 MMBTU per tahun ÷ 365 = sekitar 411 MMBTU per hari. Menggunakan padanan Toyota Tsusho 52 MMBTU per ton LNG: 150.000 ÷ 52 ÷ 365 = sekitar 7,9 ton LNG per hari. Ini ekuivalen kandungan energi rata-rata pada target penjualan penuh, bukan volume pengiriman harian yang pasti atau produksi LNG. Penyebut skala: 150.000 ÷ 365 ÷ 1.000 ÷ 877 × 100 = 0,04686% dari target penyaluran PGN 2026. Emisi pembakaran gas fosil: 150.000 × 52,91 ÷ 1.000 = 7.936,5 ton CO₂; 1 − 7.936,5 ÷ 80.000 = 90,08%. Selisih tersebut bukan bukti pembagian inventaris emisi proyek. Faktor EIA menghitung CO₂ pembakaran gas, bukan emisi siklus hidup BioCNG. Target kapasitas, jadwal dan emisi belum merupakan data penjualan dan pengukuran komersial.

Bagikan artikel ini.
WhatsAppLinkedInX
PENCARIAN

Cari berita

Masukkan topik, perusahaan, kebijakan, atau proyek.

Mulai dengan minimal 2 karakter.

DAFTAR BACAANMU

Disimpan untuk nanti.

Daftar bacaan tersimpan di browser ini, bukan di akun online.