Pasokan LNG dari Timur Tengah berkurang 36 juta ton pada 2026 akibat gangguan pengiriman di Teluk, menurut laporan Reuters yang terbit 21 September 2026 pukul 17.18 WIB. INPEX menempatkan proyek Abadi Masela berkapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun sebagai salah satu fokus portofolionya, dengan keputusan investasi final ditargetkan pada pertengahan 2027.
Pembeli Asia mencari pasokan di luar Teluk
Perusahaan dan negara pengimpor LNG mulai memperluas sumber pasokan setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengganggu arus kargo Teluk serta merusak infrastruktur Qatar. Reuters melaporkan pembahasan itu berlangsung dalam konferensi Gastech 2026 di Bangkok, Thailand, yang digelar pada September 2026.
Kepala bisnis LNG Shell, Tom Summers, menyebut kehilangan pasokan bruto dari Timur Tengah mencapai 36 juta ton pada 2026. Tambahan produksi dari proyek baru menahan kehilangan bersih global menjadi sekitar 5 juta ton, setara 1 sampai 1,5 persen dari pasokan dunia pada 2026, menurut keterangannya yang dikutip Reuters pada 21 September 2026.
Bangladesh kini mempertimbangkan pasokan dari Indonesia, Australia, dan China setelah selama ini banyak bergantung pada Qatar. Pernyataan Menteri Energi Bangladesh Iqbal Hasan Mahmud di Gastech belum menunjukkan adanya kontrak pembelian dari Indonesia, tetapi membuka peluang bagi proyek LNG Indonesia yang sedang mencari pembeli jangka panjang.
Abadi Masela menawarkan 9,5 juta ton LNG per tahun
Presiden Direktur dan CEO INPEX Takayuki Ueda mengatakan perusahaan berfokus pada Lapangan Gas Abadi di Indonesia ketika membahas ketahanan portofolio LNG. Reuters pada 21 September 2026 menyebut final investment decision atau keputusan investasi final proyek itu ditargetkan pada pertengahan 2027. Target tersebut belum berarti FID telah disetujui.
Laman resmi INPEX yang diakses 22 September 2026 mencatat Abadi dirancang menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa untuk kebutuhan domestik sebesar 150 juta kaki kubik per hari atau MMSCFD, serta kondensat hingga sekitar 35.000 barel per hari. Total produksi gas proyek itu setara 10,5 juta ton LNG per tahun dalam rencana pengembangan.
INPEX Masela Ltd. menjadi operator dengan kepemilikan 65 persen, PT Pertamina Hulu Energi memegang 20 persen, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. memiliki 15 persen. Production Sharing Contract atau PSC Blok Masela berlaku sampai 15 November 2055, menurut laman proyek INPEX. Lokasi blok dapat dilihat melalui Peta Migas Indonesia.
Pada 20 Mei 2026, INPEX mengumumkan agreement in principle dengan bp, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT PLN Energi Primer Indonesia, dan Shell Eastern Trading untuk rencana penyerapan LNG. INPEX juga mencapai kesepakatan prinsip dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk pasokan gas pipa. Dokumen itu menegaskan para pihak masih perlu menyelesaikan sale and purchase agreements atau SPA dan gas sales agreement atau GSA.
Masela harus menyeimbangkan ekspor dan kebutuhan domestik
Perubahan pola pembelian Asia memberi Indonesia peluang mengunci kontrak jangka panjang sebelum FID. Bagi proyek sebesar Masela, kepastian pembeli membantu pembiayaan dan keputusan konstruksi, sedangkan pasokan gas pipa dapat menopang kebutuhan pupuk dan energi dalam negeri.
Reuters pada 24 Februari 2026 melaporkan SKK Migas memperkirakan sekitar 40 persen produksi LNG Abadi akan dialokasikan untuk pasar domestik. Angka itu masih berupa perkiraan yang dikutip Reuters, bukan pembagian final dalam SPA. Pemerintah dan konsorsium perlu menjelaskan komposisi penjualan domestik dan ekspor ketika kontrak pembeli telah diselesaikan.
Abadi juga belum menghasilkan gas atau LNG. INPEX mencatat front-end engineering and design atau FEED dimulai pada Agustus 2025, sedangkan kapasitas 9,5 juta ton per tahun tetap merupakan rencana produksi. Karena itu, peluang akibat gangguan pasokan Teluk belum dapat dihitung sebagai pendapatan ekspor Indonesia.
Angka dalam konteks
| Label | Nilai dan satuan | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| Pasokan LNG Timur Tengah yang hilang | 36 juta ton | 2026 | Shell melalui Reuters, 21 September 2026 |
| Kehilangan bersih pasokan global | 5 juta ton, setara 1 sampai 1,5 persen | 2026 | Shell melalui Reuters, 21 September 2026 |
| Kapasitas LNG Abadi | 9,5 juta ton per tahun | Rencana pengembangan, diakses 22 September 2026 | INPEX |
| Gas pipa domestik Abadi | 150 MMSCFD | Rencana pengembangan, diakses 22 September 2026 | INPEX |
| Porsi konsorsium | INPEX 65 persen, PHE 20 persen, Petronas 15 persen | Diakses 22 September 2026 | INPEX |
Apa yang dipantau berikutnya
Pasar menunggu perkembangan pemulihan pasokan LNG Teluk dan keputusan pembeli Asia setelah 22 September 2026. Untuk Abadi Masela, pemicu berikutnya adalah penyelesaian SPA dan GSA, hasil FEED, penetapan porsi domestik, serta keputusan investasi final yang ditargetkan pertengahan 2027.
Sumber data
- Reuters, 21 September 2026 pukul 17.18 WIB, “LNG buyers and sellers seek greater supply diversity amid Iran war”, https://www.reuters.com/business/energy/lng-buyers-sellers-seek-greater-supply-diversity-amid-iran-war-2026-09-21/
- INPEX Corporation, 20 Mei 2026, “INPEX Advances LNG and Pipeline Natural Gas Offtake Discussions for Abadi LNG Project, Masela Block, Indonesia”, https://www.inpex.com/english/news/upload/20260520.pdf
- INPEX Corporation, diakses 22 September 2026, “Abadi LNG Project”, https://www.inpex.com/english/business/project/abadi.html
- Reuters, 24 Februari 2026, “Inpex to solicit bids for construction of Indonesia’s Abadi LNG project in mid-2026”, https://www.reuters.com/business/energy/inpex-solicit-bids-construction-indonesias-abadi-lng-project-mid-2026-2026-02-24/


