Foto: peresmian PLTS Central Omega, 29 September 2026. Sumber: POSONEWS.ID.
Dampaknya masih kecil untuk skala industri nikel. PLTS Central Omega di Morowali Utara berkapasitas 256 kWp diperkirakan menghasilkan sekitar 350–400 MWh setahun, setara daya rata-rata 40–46 kilowatt. Ukurannya cocok sebagai tambahan listrik fasilitas penunjang seperti mess, kantor dan penerangan, bukan pengganti pasokan utama pengolahan nikel atau bahan bakar armada alat berat.
Fasilitas dengan baterai 251 kWh ini diresmikan pada 29 September 2026 di Dusun V, Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia, pada area pertambangan PT Mulia Pacific Resources. Central Omega, emiten berkode DKFT, mengumumkannya pada 30 September lewat rilis perusahaan dan keterbukaan BEI. Surat 288/COR/IX/26 (salinan dokumen BEI di IndoPremier) menyatakan tidak ada dampak material. Ini menyangkut listrik operasional tambang, bukan pengumuman pengoperasian smelter baru.
Seberapa besar fasilitasnya?
Setara sekitar 60 instalasi atap rumah, jika masing-masing 4,3 kWp. Ini perbandingan kapasitas, bukan jumlah rumah yang dilayani.
Kira-kira lima baterai mobil listrik berkapasitas 50 kWh. kWh mengukur energi simpan, bukan daya panel.
Setara emisi pembakaran sekitar 130.000 liter solar; bukan volume penghematan yang sudah terukur.
Kapasitas dan proyeksi: perusahaan. Padanan rumah/mobil: ilustrasi dengan asumsi di atas. Padanan solar: faktor CO₂ pembakaran EPA, sekitar 2,69 kg per liter.
Kecil dibanding kawasan nikel di sebelahnya
Di Kabupaten Morowali, IMIP mencantumkan kapasitas PLTU 4.810 megawatt. Dalam pengumuman 28 September, IMIP menyebut PT Sesmo sedang mengembangkan PLTS 200 MWp: sekitar 780 kali kapasitas panel fasilitas Central Omega. Proyek Sesmo masih pengembangan, bukan kapasitas surya yang sudah beroperasi.
Estimasi 350–400 MWh memakai produksi 1.370–1.560 kWh per kWp per tahun. Sebagai patokan, ESDM menyebut proyeksi PLTS Purwakarta 100 MWp sebesar 150 GWh setahun, atau 1.500 kWh per kWp. Dengan patokan itu, 256 kWp menghasilkan sekitar 384 MWh; hasil Morowali bergantung cuaca, rancangan dan pemanfaatan listriknya.
Klaim emisinya masuk akal dengan asumsi diesel
Proyeksi 344 ton dibagi produksi 350–400 MWh memberi 0,86–0,98 ton CO₂ per MWh. Dengan faktor pembakaran solar 2,69 kg per liter, itu menyiratkan sekitar 0,32–0,37 liter per kWh listrik yang digantikan. Klaimnya dapat konsisten dengan penggantian genset diesel pada konsumsi tersebut. Namun laporan peresmian juga menyebut PLN sebagai cadangan; rasio emisi saja tidak menentukan sumber listrik yang digantikan.
Pelopor daerah bukan berarti pertama di Sulawesi Tengah
Netiz melaporkan Bupati Delis menyebut kemungkinan yang pertama di Sulawesi Tengah. Klaim seluas provinsi itu tidak tepat: IMIP telah mengoperasikan beberapa PLTS, termasuk BTR 9,5 MWp. Status pertama untuk kategori tambang tertentu di Morowali Utara perlu dipisahkan dari seluruh PLTS Sulawesi Tengah.
Xurya membangun sistem yang disebut perusahaan sebagai hybrid off-grid. Kerja samanya berupa penyediaan dan sewa sistem/infrastruktur, bukan jual beli listrik. Rencana PLTS sekitar 200 MW yang dibicarakan Pemkab Morowali Utara juga merupakan proyek lain, berbeda dari fasilitas ini maupun proyek Sesmo di IMIP.
Angka kapasitas dan emisi berasal dari perusahaan; belum ada data produksi listrik aktual.



