MEDIA ENERGI INDONESIA
Berita

Konversi Motor Rp15 Juta, Kapan Balik Modal?

Patokan biaya Rp15 juta memerlukan sekitar 63 bulan untuk kembali pada pemakaian 1.000 km/bulan. Bantuan baru belum menjadi kepastian bagi pembeli Cogen.

Oleh Redaksi Sorot Energi···5 menit baca
Peserta sosialisasi di UBP Priok memeriksa baterai dan penggerak motor listrik, dengan identitas PLN IP Services pada pakaian tim serta nama Cogindo dan Cogen pada peralatan. Foto dokumentasi resmi PLN IP Services, diunggah 7 Oktober 2026.

Sosialisasi Cogen EV 2.5 di UBP Priok. Foto: PLN IP Services.

Konversi motor bensin menjadi listrik belum tentu cepat balik modal: dengan patokan biaya Rp15 juta, penghematan energi saja membutuhkan sekitar 63 bulan pada pemakaian 1.000 kilometer sebulan. Jika motor hanya dipakai 500 kilometer sebulan, waktunya menjadi sekitar 126 bulan. Bantuan pemerintah bisa memangkas modal, tetapi skema baru harus dipastikan sebelum dihitung sebagai potongan harga.

Persoalan itu relevan ketika PLN IP Services mengumumkan sosialisasi Cogen EV 2.5 pada 7 Oktober 2026. Tim Workshop Cirebon mengenalkan konversi di UBP Priok, unit pembangkit PLN Indonesia Power di Jakarta. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan perusahaan; pengumumannya tidak menyatakan pembukaan layanan umum di kawasan Tanjung Priok.

Modal Rp15 juta, bantuan belum boleh dianggap pasti

Patokan Rp15 juta berasal dari penjelasan Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi pada Juli 2026, sebagaimana diberitakan Bisnis.com. Ia menjelaskan biaya program sebelumnya sekitar Rp15 juta, dengan bantuan Rp10 juta dan sisa Rp5 juta yang pernah ditutup CSR. Angka tersebut merupakan pembanding biaya program, bukan penawaran paket Cogen saat ini.

Program bantuan lama berjalan hingga 2024. Pada Juli 2026, pemerintah masih mengkaji desain berikutnya, termasuk rencana program 2027. Keterangan resmi pemerintah pada 5 Maret 2026 menyebut perkiraan biaya teknologi yang lebih murah, sekitar Rp5–6 juta, dan dukungan yang masih diformulasikan. Jadi angka Rp5–6 juta tidak dapat langsung dianggap nominal subsidi yang sudah diputuskan.

Rilis Cogen terbaru tidak mengumumkan bantuan aktif atau syarat penerimanya. Untuk menimbang pembelian sekarang, mintalah harga tertulis dari bengkel dan dasar bantuan yang benar-benar bisa digunakan.

Berapa hematnya per kilometer?

Pembanding ESDM pada September 2024 menggunakan motor bensin yang menempuh 35 km per liter dan motor listrik 35 km per kWh. Dengan patokan Pertalite Rp10.000/liter pada Juli 2026 serta tarif PLN R-2 3.500–5.500 VA Rp1.699,53/kWh pada Juli–September 2026, biaya energi sekitar Rp286/km untuk bensin dan Rp49/km untuk listrik: selisih sekitar Rp237/km.

Ini pembanding bersumber, bukan hasil uji Cogen maupun tarif untuk semua pelanggan. Rugi pengisian belum masuk, sehingga penghematan aktual dapat lebih kecil. Cocokkan dengan konsumsi motor sendiri, tarif pada rekening listrik, harga BBM dan jarak yang benar-benar ditempuh.

Tiga angka untuk menimbang konversi

Patokan biaya programRp15 juta

Keterangan pejabat ESDM Juli 2026; bukan harga paket Cogen.

Penghematan energi pembandingRp237/km

Dengan konsumsi dan tarif bertanggal di atas, sebelum rugi pengisian.

Tanpa bantuan, 1.000 km/bulan63 bulan

Sekitar 5,3 tahun untuk modal kembali dari penghematan energi saja.

Balik modal sederhana; bantuan di bawah hanya skenario bersyarat, bukan hak penerima saat ini
Skenario Modal pemilik 1.000 km/bulan 500 km/bulan
Tanpa bantuan Rp15 juta 63,2 bulan 126,5 bulan
Jika bantuan Rp5 juta diberlakukan Rp10 juta 42,2 bulan 84,3 bulan
Jika bantuan Rp6 juta diberlakukan Rp9 juta 37,9 bulan 75,9 bulan

Angka subsidi pada tabel adalah uji dampak potongan modal, bukan pengumuman kebijakan. Penghematan pembanding sekitar Rp237.000 per bulan pada 1.000 km, atau Rp119.000 pada 500 km. Biaya sewa atau penggantian baterai, perbedaan perawatan, rugi pengisian dan bunga belum dihitung; semuanya dapat mengubah waktu balik modal. Bila baterai perlu diganti sebelum modal kembali, biaya itu perlu dimasukkan kembali.

Cogindo adalah nama lama perusahaan yang sama

PLN IP Services, anak PLN Indonesia Power, sebelumnya bernama Cogindo DayaBersama; acara rebranding grup dicatat pada 29 Mei 2024. Nama Cogindo pada alat dalam foto berkaitan dengan identitas lama perusahaan, sedangkan Cogen EV 2.5 merupakan nama program konversinya.

Program Cogen telah mendapatkan penghargaan ESDM pada Oktober 2024. Kegiatan Priok kali ini adalah sosialisasi internal, bukan bukti bahwa teknologinya baru hadir atau konversi pertama di Indonesia. Rilis belum merinci harga Cogen, kapasitas baterai, jarak tempuh teruji atau jumlah motor yang selesai dikonversi dalam kegiatan ini.

Nama produk berbeda dari spesifikasi

Konversi mengganti mesin bensin dengan motor listrik, baterai dan pengendali, sambil mempertahankan bagian kendaraan yang sesuai. Dudukan, kabel, ruang baterai, bobot dan sistem pengisian tetap harus diperiksa. Angka “2.5” pada Cogen EV 2.5 adalah nama produk; rilis tidak menjelaskannya sebagai daya 2,5 kW atau baterai 2,5 kWh.

Sertifikat bengkel berbeda dari legalitas setiap motor

Perusahaan menyatakan bengkelnya telah bersertifikat Kementerian Perhubungan. Namun, Permenhub PM 39 Tahun 2023, Pasal 9 dan 19, tetap mensyaratkan pengujian kendaraan yang akan digunakan di jalan serta sertifikat registrasi uji tipe konversi sebagai salah satu syarat perubahan registrasi dan identifikasi. Sertifikat bengkel tidak menggantikan dokumen setiap motor.

Emisi turun, meski listriknya punya jejak karbon

Dengan pembanding konsumsi yang sama, faktor jaringan DKI Jakarta–Jamali 0,87 kg CO₂e/kWh dalam tabel Kalkulator Hijau Bank Indonesia memberi sekitar 25 gram CO₂e per kilometer dari listrik. Bensin pada faktor ESDM 2,5 kg CO₂/liter menghasilkan sekitar 71 gram CO₂/km dari pembakaran. Besaran emisi penggunaan energi pada pembanding ini turun sekitar 65%; ini belum mencakup rugi pengisian, produksi baterai atau seluruh siklus hidup, dan bukan hasil pengukuran Cogen.

Keputusan subsidi paling menentukan

Yang perlu dipantau adalah apakah skema bantuan baru benar-benar diputuskan: nominal, tanggal mulai, anggaran, kriteria penerima dan bengkel yang melayani. Setelah itu, bandingkan penawaran Cogen dengan kapasitas baterai, garansi, konsumsi teruji, pengurusan surat serta biaya penggantian baterai. Penghematan per kilometer membantu, tetapi keputusan konversi tetap bergantung pada modal bersih dan seberapa sering motor dipakai.

Ikuti perkembangannya pada profil Cogen EV Priok di Sorot Tracker.

Sumber dan metode

Biaya energi bensin = Rp10.000 ÷ 35 = Rp285,71/km; listrik = Rp1.699,53 ÷ 35 = Rp48,56/km. Selisih tanpa pembulatan = Rp237,1563/km. Penghematan bulanan = jarak × selisih; balik modal = modal bersih ÷ penghematan bulanan. Tanpa bantuan: Rp15 juta ÷ Rp237.156,29 = 63,25 bulan pada 1.000 km; pada 500 km, 126,50 bulan. Jika bantuan Rp6 juta diberlakukan, modal Rp9 juta kembali 37,95 atau 75,90 bulan. Emisi pembanding: 0,87 ÷ 35 × 1.000 = 24,86 g CO₂e/km; bensin 2,5 ÷ 35 × 1.000 = 71,43 g CO₂/km. Rugi pengisian, produksi bahan bakar/baterai, perawatan, bunga serta nilai waktu uang tidak tercakup. Konsumsi ESDM adalah pembanding historis, bukan pengukuran dari stopkontak atau uji Cogen.

Bagikan artikel ini.
WhatsAppLinkedInX
PENCARIAN

Cari berita

Masukkan topik, perusahaan, kebijakan, atau proyek.

Mulai dengan minimal 2 karakter.

DAFTAR BACAANMU

Disimpan untuk nanti.

Daftar bacaan tersimpan di browser ini, bukan di akun online.